Me and Smoke

September 14, 2008

Dalam dunia percintaan kita mengenal istilah cinta pada pandangan pertama,begitulah yang terjadi dalam diri saya.saya mulai mengenal rokok ketika saya masih duduk di kelas 5 SD,mula-mula saya hanya iseng dan sebatas ikut-ikutan saja,tapi selang beberapa tahun tepatnya ketika saya duduk di kelas 2 SMA saya mulai mencintainya dan tak bisa terpisahkan dengannya,seakan-akan dia adalah first love-ku.padahal gara-gara barang tersebut entah berapa kali saya mendapatkan hukuman dari guru-guru saya dan ortu saya.tapi itu semua tak pernah bisa menghilangkan cinta saya padanya.karena Bagi saya dia adalah kekasih pertama saya karena barang tersebutlah yang selalu menemani saya selama sekitar 10 tahun dalam luka dan duka.Kadang saya sempat geram ketika membaca slogan-slogan tentang larangan merokok,bagi saya slogan itu adalah buatan orang-orang yang tak pernah merasakan betapa nikmatnya berjamah dengannya.dan yang lebih membuat saya geram lagi ketika saya mendengar bahwa rokok itu ‘haram’ hukumnya.menurut saya perkataan seperti itu adalah pendapat tanpa dalil yang jelas. malah mungkin dia tidak pernah belajar islam secara kaffah yang selalu mementingkan kemudahan pada ummatnya dalam menentukan suatu hukum.
Dalam kesindirian kadang saya mencari dalil yang membolehkan rokok, akhirnya saya menemukan sebagian dalil yang saya bingkai dalam tulisan kecil ini, diantaranya adalah:

Pertama: baik dalam Al-qur’an atau hadits rasul tidak ada satu dalil pun yang jelas-jelas menyebutkan larangan merokok.
Kedua:mengapa kita harus melarang orang yang merokok padahal masih banyak orang yang tidak sholat dan tidak puasa, tapi jarang sekali ada orang yang menegurnya.
Ketiga:rokok tidak menyebabkan hilangnya akal,jadi hukumnya beda jauh dengan minuman keras,sabu-sabu,narkotika dan sebagainya.yang haram karena bisa menghilangkan akal.
Dan sampai sekarangpun saya belum bisa meninggalkannya apalagi sampai membencinya.karena bagi saya dia terlalu banyak menyumbang inspirasi buat saya.


Indonesia (belum) Merdeka

September 14, 2008

Kata “merdeka” menurut kamus bahasa Indonesia yaitu bebas dari penjajahan dan penyembahan.kalau kita mendefinisikan kata “merdeka” dalam lingkup yang luas, maka kita akan mendapatkan bahwa Indonesia saat ini masih dalam penjajahan dan penyembahan.dalam artian, kita disini mendefinisikan penjajahan bukan hanya dalam artian menguasai dan memerintah suatu negeri , akan tetapi lebih luas dari arti aslinya. hingga akhirnya yang ada pada benak saya saat ini bahwa

”indonesia belum merdeka” penjajahan di Indonesia belum 100% musnah, diantaranya penjajahan terhadap kultur dan budaya. Bentuk penjajahan yang semacam ini saya umpamakan dengan penyakit AIDS, awal mulanya tak berdampak apa-apa tapi finisnya bisa merenggut nyawa seseorang.

saat ini kita tidak pernah merasakan adanya budaya luar yang masuk, tapi pada kenyatannya budaya itu telah merenggut budaya kita perlahan-lahan.hal semacam itu menyebabkan budaya kita akan mati dan Negara kita akan menjadi Negara yang tidak berbudaya.

Penjajahan model tersebut menyerang kita dalam 3 aspek.,

Pertama: style, mereka menjajah kita pertama kali denagn gaya pakaian kita, karena menurut mereka pakaian adalah symbol dari suatu bangsa.mereka merobek pakaian adat kita dan menggantinya dengan pakaian adatnya.mereka dengan tega mengganti kebaya dengan rok mini.

Kedua: pemikiran, penjajahan ini sebenarnya telah dilancarkan sejak tahun 80-an, tapi akhir-akhir ini penyerangan model ini mulai marak kembali. mereka dengan lihainya mengadudomba suatu golongan antara kita.lihat saja umat islam dipecah belah hingga akhirnya tak jarang sesama muslim harus terlibat adu fisik. Seperti itulah mereka menyerang kita.

Ketiga: financial, penjajahan model terakhir ini merupakan serangan yang paling ampuh,yaitu pada sektor ekonomi, saya katakan ampuh disini karena ekonomi merupakan titik inti dari suatu bangsa.suatu bangsa bisa dikatakan maju apabila ekonominya berkembang, sebaliknya apabila ekonominya lemah maka yang terjadi adalah kemunduran bangsa tersebut.

“Indonesia belum merdeka”, terbukti pada akhir tahun 2004 jumlah penyandang buta huruf di Indonesia tercatat 10,5% dari total penduduk Indonesia. Dijelaskannya, sebagian besar buta huruf terjadi pada kaum perempuan yakni sebanyak 13,5%. Dan ini selaras dengan meningkatnya anak-anak jalanan dan pengangguran di Indonesia, seakan-akan pemerintah kita telah tutup mata denagn problem seperti ini.meskipun pada tahun 2006 Mendiknas Bambang Sudibyo menyatakan, pemerintah optimistis bisa menekan angka buta huruf hingga tinggal 5% pada 2007.tapi itu hanya menjadi opini saja tanpa ada realisasi yang pasti. Padahal pendidikan merupakan ujung tombak dari suatu bangsa yang berkembang, bagaimana bisa dikatakan bangsa itu berkembang kalau masalah pendidikan saja pemerintah tidak becus.

“Indonesia belum merdeka”, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi mengumumkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 menjadi 37,17 juta orang atau 16,58 persen dari total penduduk Indonesia. Dan hal semacam ini menyebabkan banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena mereka lebih mementingkan kelangsungan hidup mereka dari pada harus sekolah.seakan-akan pemerintah kita tidak pernah mendapatkan solusi dalam menanggulangi tingkat kemiskinan penduduknya. Yang ada malah masyrakat miskin bertambah dan gaji pemerintah melangit. Padahal Pengentasan kemiskinan dan kebodohan memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dengan satu sistem pendidikan nasional yang harus kita persiapkan secara matang agar mampu mengantisipasi tantangan masadepan.

Terakhir, semoga bangsa kita dapat ke luar dari penjajahan yang berkepanjangan ini, dan dapat segera memenangkan perjuangan untuk tetap memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Perjuangan untuk membangun Indonesia baru memerlukan kerja keras dan motivasi yang tinggi seluruh komponen anak bangsa dari Sabang hingga Merauke.supaya tidak ada lagi teriakan-teriakan yang mengatakan bahwa”Indonesia belum merdeka”,


perempuan adalah racun

September 12, 2008

sory masih belum ada refrensi


Pesantren dalam menghadapi era globalisasi

September 12, 2008

Prolog

Satu-satunya institusi pendidikan di Indonesia yang berlabel Islam adalah “pesantren”,

Kata ‘pesantren’ sendiri berasal dari kata ‘santri’, “yang dengan awalan pe di depan

dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri”. Sebagai lembaga, pesantren

dimaksudkan untuk mempertahankan nilai-niali keislaman dengan titik berat pada

pendidikan.

Pesantren juga merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya mendidik pada pencerahan akal (kecerdasan emosional) saja akan tetapi juga mendidik terhadap pencerahan jiwa (kecerdasan spritual).pesantren juga merupakan satu-satunya lembaga keagamaan yang “asli produk” Indonesia.

Sejarah perkembangan pesantren

Zamakhsyari Dhofier, dalam karyanya ‘Tradisi Pesantren’ menyatakan bahwa untuk berstatus sebagai pesantren di Indonesia harus memenuhi lima persyaratan diantaranya adalah: pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan seorang kiyai. Namun banyak juga pesantren yang tidak memenuhi kreteria di atas,

walaupun mungkin merupakan unsur dasar komposisi pesantren, Sebagai contoh

misalnya, pada tahun 1980-an satu pesantren namanya Pabelan Yogyakarta, menjadi terkenal atas kurikulum modernnya yang mengajarkan ketrampilan- ketrampilan teknis yang bisa dimanfaatkan saat kembali ke desa.

Lambat laun seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, pesantren dituntut untuk tetap eksis dalam menjawab tantangan zaman.maka terjadilah perombakan dalam tubuh pesantren di indonesia. Ada yang sebagian banting setir dan mengubah kurikulum pesantrennya dengan kurikulum umum dengan memasukkan kurikulum umum 70% sedangkan kurikulum agama hanya 3%, dan ada pula yang masih konsist dengan tradisionalnya(salafi)

Pesantren tradisional (salafi) “merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat diperhitungkan dalam mempersiapkan ulama pada masa depan, sekaligus

sebagai garda terdepan dalam memfilter dampak negatif kehidupan modern”.

Isltilah pesantren tradisional digunakan untuk menunjuk ciri dasar perkembangan

pesantren yang masih bertahan pada corak generasi pertamaatau generasi salafi, dan untuk membedakan dengan sejumlah pesantren yang telah melakukan penyesuaian

dengan lembaga-lembaga yang mengklaim dirinya sebagai ‘pesantren modern’.

Dari satu sisi, pesantren tradisional lebih terkenal atau cenderung

mempertahankan pergunaan metode pembelajaran tradisional. Dalam metode ini kiyai aktif dan santri pasif. Secara teknis metode seperti ini bersifat individu.

Kiayi sebagai pembaca dan penterjemah, bukanlah sekedar membaca teks,

melainkan juga memberikan pandangan-pandangan pribadi, baik mengenai isi

maupun bahasnya. Kedua metode ini sering dikritisi sebagai terlalu statis dan

tradisional. Atau sebagai metode pembelajaran yang mengharuskan para santri

diam dan pasif dan tidak berani berbeda pendapat. Satu kritisi dewasa ini adalah

bahwa metode pembelajaran tradisional ini menyababyan para santri “terbiasa

berpikir dan melihat sesuatu secara hitam-putih atau benar-salah tanpa ada

peluang alternatif”.

Beda halnya dengan pesantren yang berbasis modern, model pesantren semacam ini lebih mentitik beratkan kegiatan- kegiatan ekstra kurikuler dari pada kegiatan-kegiatan intra kurikuler. Contohnya, pelatihan pramuka, pelatihan pengembangan bahasa dan lain sebagainya. Dalam pesantren ini peran seorang kyai tidak terlalu masuk kedalam kegiatan-kegiatan santrinya akan tetapi ada tangan kanan kyai yang selalu memantau kegiatan santri, biasanya dalam pesantren ini struktur kepengurusannya lebih rapi dibandingkan dengan pesantren tradisional.

Sistem pembelajarannya pun tergolong berbeda, kalau dalam pesantren tradisional sang kyai yang aktiv, maka kalau dalam pesantren modern sang santri yang dituntut lebih aktiv dari kyainya.

Pesantren di era globalisasi

Eksistensi pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini tetap signifikan. Pesantren yang secara historis mampu memerankan dirinya sebagai benteng pertahanan dari penjajahan, kini seharusnya dapat memerankan diri sebagai benteng pertahanan dari imperialisme budaya yang begitu kuat menghegemoni kehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan. Pesantren tetap menjadi pelabuhan bagi generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang menjebaknya dalam kehampaan spiritual. Keberadaan pesantren sampai saat ini membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman. Namun akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pesantren untuk tanggap secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa depan pesantren ditentukan oleh sejauhmana pesantren menformulasikan dirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya. Dan kami yakin pesantren akan menjadi satu-satunya institusi ke-islaman yang akan tetap eksis sampai akhir zaman.karena bangsa Indonesia ada karenanya dan tanpanya Indonesia seakan tak bertaring. Karena saya melihat pesantren adalah penyelamat pendidikan di Indonesia.Bravo pesantren…!

 


Fiqih kontemporer VS Fiqih klasik

September 12, 2008

Prolog

Dalan dunia pesantren, fiqih merupakan ilmu yang paling banyak diminati dan paling popular di kalangan santri khusunya di pulau jawa, demi ilmu tersebut seorang santri rela menghabiskan waktunya bertahun-tahun untuk mendalami ilmu yang katanya keramat itu.
Dalam masyrakat jawa, yang notabenennya masyarakat yang masih tergolong trdisional seorang kyai di tuntut mengkaji ilmu tersebut dalam lingkup ilmu fiqih atas madzhab syafi’i.akan tetapi semakin berkembangnya zaman sang kyai tidak hanya dituntut untuk mendalami ilmu fiqih klasik saja akan tetapi juga di tuntut untuk mendalami fiqih yang bersifat kontemporer, karena problematika yang muncul tidak hanya bersifat ibadah, yang cukup dijawab dengan kitab-kitab klasik atau yang lebih dikenal denagn sebutan “kitab kuning”,akan tetapi masalah yang ada banyak yang bersifat modern atau kontemporer.
Oleh karana itu fiqih merupakan ilmu yang sangat signifikan bagi setiap umat manusia karena ilmu tersebut mengatur semua perilaku manusia selama24 jam.

Fiqih dalam wacana kontemporer dan klasik

Semakin majunya perkembangan teknologi dunia, tak heran kalau fiqih klasik mulai jadi sorotan orang-orang modernis(liberalis) yang beranggapan bahwa fiqih kalsik sudah tak akurat lagi pada zaman ini,dan harus direnovasi kembali, Bagi mereka, tidak semua permasalahan di zaman serba mesin ini mampu dijawab dan direspon oleh kitab yang dikarang pada ratusan tahun yang silam, ketika zaman masih “sederhana”. Oleh karenanya, kata kelompok modernis ini, diperlukan kajian atau bahkan ijtihad baru, karena kitab kuning lahir dan tercipta untuk menjawab permasalahan di masanya.
Di lain pihak,beda halnya dengan orang-orang sarungan(tridisional) mereka masih setia pada komitmen mereka bahwa fiqih klasik tetap menjadi materi wajib dalam dunia pesantern, mereka masih meyakini bahwa fiqih klasik tetap relevan dalam menjawab problematika kontemporer. Bagi mereka, kitab-kitab kuning merupakan sabda agama yang bisa menyamai keabsahan Al-qur’an, yang tak perlu digugat atau di ragukan ke absahannya.maka ketika kitab kuning berbicara,dia seakan-akan menjadi sabda yang harus di ikuti.lain halnya denagn persepsi orang-orang modernis mereka beranggpan bahwa akal(rasio)di atas segala-galanya dalam penentuan hukum.menurut mereka setiap individu bebas menentukan hukum permasalahannya. Kelompok ini juga berpandangan bahwa ulama-ulama dulu juga manusia biasa yang karangannya masih perlu dikritisi dan dikaji ulang, sehingga diperlukan ijtihad baru yang lebih toleran dan bebas.
Lau dari sini timbul satu pertanyaan”siapakah diantara mereka yang benar?” Apakah kaum sarungan, yang menganggap kitab kuning adalah sabda agama yang sakralitasnya nyaris menyamai al-Qur’an, sehingga tidak perlu digugat dan diper­masalahkan keabsahannya? atau kalangan islam modernis yang menjadiakn akal untuk menentukan hukum?dan beranngapan bahwa fiqih kalsik sudah tak akurat lagi pada zaman ini,dan harus direnovasi kembali denagan ber ijtihad?seberapa pantaskah mereka ber ijtihad?sudah cukupkah kapasitas keilmuan mereka dalam mengkaji ilmu islam?
Untuk menjawab pertanyaan di atas penulis mencoba mengutip pandanagn Dr,.yusuf Al-qardawi dalam menganalisa fiqih klasik dan kontemporer,beliau membagi dalam tiga golongan besar,yaitu tradisionalis,liberalis,dan mederatis.
Golongan pertama adalah golongan yang mengedepankan pemahaman literalistik atas teks-teks agama tanpa memandang perubahan zaman sehingga dalam golongan ini terjadi taqlid buta atas ulama-ulama terdahulu,tanpa adanya pembaharuan sama sekali.
Dalam pandangan mereka,nash-nash yang sudah ada tidak boleh lagi digugat atau dikritisi sehingga denagn adanya keyakinan seperti ini, pola fikir mereka menjadi kaku dan jumud.maka tidak heran kalau banyak dari golongan ini yang berpikiran ekstim dan fundamental.akibatnya mereka mengklaim golongan yang selain mereka adalah kafir.
Golongan yang kedua yaitu golongan liberalis yang selalu mengedepankan rasio dari pada wahyu tuhan.sehingga terjadilah pembenturan suatu hukum.karena suatu masalah apabila dihukumi oleh akal tanpa berpeganag pada nash-nash Al-qur’an dan hadits maka akan terjadi banyak kontroversi melihat minimnya kemampuan akal dalam menandingi kalam tuhan.
golongan ini banyak menyaring pemikiran dari orang-orang barat.terbukti dengan ide-ide yang sering diteriakkan atas nama sekularisasi.
Golongan yang ketiga adalah golongan orang-orang moderat atau kalau tidak berlebihan penulis namakan golongan ini dengan golongan yang mencoba mengkolaborasi antara teks-teks klasik denagn denagn teks-teks yang lebih bebas dan terbuka sehingga tidak terjadi lagi ke-kakuan dan taqlid buta.diantaranya denagn dibukanya forum-forum diskusi atau seminar-seminar untauk menentukan suatu hukum peemasalahan.

Penutup

Penulis tidak bisa menentukan siapakah yang benar diantara ketiganya,hanya saja menurut hemat penulis, agama islam adalah agama yang pasti sesuai pada setiap zaman, kalau umat islam masih mengkiblat pada islam masa rosulullah yang mana pada masa itu masih kernenal kuno, maka umat islam sekarang akan mengalami kemunduran intelektual,sebaliknya juga kalau umat islam terlalu bebas menggunakan akalnya tanpa berpedoman pada nash-nash tuhan maka umat islam tak ubahnya adalah orang-orang barat yang memuja akal dan rasio.
Perbedaan pemikiran suatu golongan adalah hal yang lumrah akan tetapi permasalahannya adalah bagaimana kita bisa mencari persamaan dari perbedaan tersebut,sehingga umat islam bisa kembali maju seperti pada zaman rasulullah dan sahabatnya.amien

 


Tentang Bidadari

September 10, 2008

Memujimu seakan tak pernah menumakan kepuasan.entah apakah karena minimnya imajinasiku atau karena agungnya ke-indahanmu.kau adalah bintang kejora di kegelapan malam, meskipun sinar bintang tak secerah sinar wajahmu.ah…mungkin aku terlalu bodoh sampai menyamakanmu dengan bintang.”maaaf” hanya itu yang bisa ku ucapkan.karena selama ini aku tak pernah bisa menemukan sesuatu yang bisa menyaingi ke-indahanmu,tidak pernah!

pikiran bodohku tiba-tiba mengaung, kau adalah hujan di musim kemarau, tapi cepat-cepat ku muntahkan pikiran itu, karena sejuknya matamu tak sebanding dengan hujan di musim kemarau.terlalu indah!.sungguh terlalu indah.

kuberlari ke puncak gunung hanya ingin mencari sesuatu yang lebih tinggi dari kepribadianmu, tapi yang ku peroleh hanyalah letih dan tangan hampa.

setiap subuh ku sempatkan tanganku menyentuh setetes embun tapi yang ada hanyalah sampah ketika kubandingkan dengan kesucian hatimu.

Kau buatku gila ketika ku dengar suaramu, tiba-tiba tubuh ini gemetar dan aliran darah ku berhenti seketika, entak kenapa, mungkin dia terkejut setelah mendengar suara asli sang bidadari. Malah bukan hanya tubuhku, bumi dan planet-planet semuanya bergetar dan serempak berteriak inilah bidadariku…!

Wahai perempuan padang pasir, izinkan aku memandangmu meski hanya lewat mimpi busukku, karena sebenarnya aku tak pantas memandang seluruh ke indahanmu dengan mata kasatku yang sangat sederhana ini.

Adalah engaku wahai dewi kesunyian yang selalu hadir ketika dahaga menyengat, ketika tubuh tak kuasa tegak berdiri, ketika mulut tak lagi berucap, kau tiba-tiba hadir dengan kepakan sayapmu, sesekali kurasakan desiran darah di tubuhku tiba-tiba berhenti,sel darah putih, sel darah merah, pembuluh nadi, semuanya hormat atas kehadiranmu, otakku yang sebelumnya sibuk tiba-tiba tak berfungsi dia terkejut atas kelembutanmu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Ketika itu pula aku terpana, tak berucap, tak bergerak, aku mati tapi masih bernafas.aku gila, aku bodoh ketika itu.sang matapun tak pernah sudi untuk menutup kelopaknya.dia sesekali sinkron dengan bibir dan memaksanya untuk senyum. Sang bibir senyum meski tak manis.lalu dia bangunkan sang telinga yang dari tadi masih khusuk menjamah suara bidadari.

Aku menyesal mengenalmu, karena setelah aku kenal kamu pikiranku kacau yang ada di otakku hanyalah kamu, kamu dan kamu…bidadari malamku…

Semoga tuhan mempertemukan kita dalam hubungan yang di ridhoi-Nya,

Satu kata buatmu “ku mencintamu karenaMu”


Tuhan baru bernama “Musik”

September 7, 2008

Nasruddin Albani dalam bukunya yang berjudul ”tahrimu Alati At-thorb” menyebutkan pengaharamannya terhadap musik,dikarenakan beberapa sebab.diantaranya beliau menyebutkan bahwa musik bisa menjadikan manusia lupa terhadap tuhannya.
Akan tetapi pendapat tersebut dibantah oleh salah seorang ulama ahli fiqh yaitu Syaikh Muhammad Abu zahro,beliau mengatakan”selama musik itu tidak berdampak pada perubahan psikologis seseorang, maka musik tersebut halal hukumnya”,beliau melanjutkan bahwa dari salah satu kebiasaan bangsa arab dahulu ialah sangat gemar sekali bermain musik dan Nabipun tidak pernah mengingkari hal tersebut.
Menurut hemat penulis setelah melihat dua pendapat diatas, maka penulis bisa mengatakan bahwa ”musik bisa menjadi haram hukumnya jika kita mabuk terhadapnya”
Jika kita melihat pada kondisi zaman sekarang seiring berkembangnya zaman teknologi yang mana musisi-musisi sekarang tidak hanya sebatas melantunkan lagunya tapi seakan-akan mereka telah menjadi “Tuhan” bagi penggemarnya.
Maka jangan heran kalau sering kita mendengar kelompok-kelompok seperti “slanker,bala dewa,jamers dll”. Dan yang tak kalah parahnya lagi, mereka telah berkiblat sepenuhnya pada “Tuhan barunya”.dalam artian mereka telah mentaqlid buta semua sifat dan perilaku sang idolanya.seperti sering kita temukan di jalan-jalan anak muda yang berjalan dengan rambut “punk-nya” yang berwarna-warni,dan juga dilengkapi dengan aksesoris-aksesoris di tubuhnya seperti gelang rantai,anting,dan tato.
Nah, seperti inilah yang sempat disinggung oleh Syaikh Muhammad Abu Zahro di atas yang mengatakan “musik itu bisa haram apabila berdampak pada perubahan psikologis seseorang”.
Jadi, sebagai kata terakhir dari penulis “kita boleh saja suka dan cinta pada musik asalkan kita tidak berlebihan dalam mencintainya, karena cinta yang berlebihan itu hanyalah untuk Allah dan Rosulnya”.seperti dalam firman-NYA”innallaha laa yuhibbul musrifiin”.