Tentang Bidadari

Memujimu seakan tak pernah menumakan kepuasan.entah apakah karena minimnya imajinasiku atau karena agungnya ke-indahanmu.kau adalah bintang kejora di kegelapan malam, meskipun sinar bintang tak secerah sinar wajahmu.ah…mungkin aku terlalu bodoh sampai menyamakanmu dengan bintang.”maaaf” hanya itu yang bisa ku ucapkan.karena selama ini aku tak pernah bisa menemukan sesuatu yang bisa menyaingi ke-indahanmu,tidak pernah!

pikiran bodohku tiba-tiba mengaung, kau adalah hujan di musim kemarau, tapi cepat-cepat ku muntahkan pikiran itu, karena sejuknya matamu tak sebanding dengan hujan di musim kemarau.terlalu indah!.sungguh terlalu indah.

kuberlari ke puncak gunung hanya ingin mencari sesuatu yang lebih tinggi dari kepribadianmu, tapi yang ku peroleh hanyalah letih dan tangan hampa.

setiap subuh ku sempatkan tanganku menyentuh setetes embun tapi yang ada hanyalah sampah ketika kubandingkan dengan kesucian hatimu.

Kau buatku gila ketika ku dengar suaramu, tiba-tiba tubuh ini gemetar dan aliran darah ku berhenti seketika, entak kenapa, mungkin dia terkejut setelah mendengar suara asli sang bidadari. Malah bukan hanya tubuhku, bumi dan planet-planet semuanya bergetar dan serempak berteriak inilah bidadariku…!

Wahai perempuan padang pasir, izinkan aku memandangmu meski hanya lewat mimpi busukku, karena sebenarnya aku tak pantas memandang seluruh ke indahanmu dengan mata kasatku yang sangat sederhana ini.

Adalah engaku wahai dewi kesunyian yang selalu hadir ketika dahaga menyengat, ketika tubuh tak kuasa tegak berdiri, ketika mulut tak lagi berucap, kau tiba-tiba hadir dengan kepakan sayapmu, sesekali kurasakan desiran darah di tubuhku tiba-tiba berhenti,sel darah putih, sel darah merah, pembuluh nadi, semuanya hormat atas kehadiranmu, otakku yang sebelumnya sibuk tiba-tiba tak berfungsi dia terkejut atas kelembutanmu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Ketika itu pula aku terpana, tak berucap, tak bergerak, aku mati tapi masih bernafas.aku gila, aku bodoh ketika itu.sang matapun tak pernah sudi untuk menutup kelopaknya.dia sesekali sinkron dengan bibir dan memaksanya untuk senyum. Sang bibir senyum meski tak manis.lalu dia bangunkan sang telinga yang dari tadi masih khusuk menjamah suara bidadari.

Aku menyesal mengenalmu, karena setelah aku kenal kamu pikiranku kacau yang ada di otakku hanyalah kamu, kamu dan kamu…bidadari malamku…

Semoga tuhan mempertemukan kita dalam hubungan yang di ridhoi-Nya,

Satu kata buatmu “ku mencintamu karenaMu”

2 Responses to Tentang Bidadari

  1. Kopral Jono says:

    Asastra, oyyyy…Tak ngerock beih? Pongpong Obu’nah enga’ bhekoh =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: