Pesantren dalam menghadapi era globalisasi

Prolog

Satu-satunya institusi pendidikan di Indonesia yang berlabel Islam adalah “pesantren”,

Kata ‘pesantren’ sendiri berasal dari kata ‘santri’, “yang dengan awalan pe di depan

dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri”. Sebagai lembaga, pesantren

dimaksudkan untuk mempertahankan nilai-niali keislaman dengan titik berat pada

pendidikan.

Pesantren juga merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya mendidik pada pencerahan akal (kecerdasan emosional) saja akan tetapi juga mendidik terhadap pencerahan jiwa (kecerdasan spritual).pesantren juga merupakan satu-satunya lembaga keagamaan yang “asli produk” Indonesia.

Sejarah perkembangan pesantren

Zamakhsyari Dhofier, dalam karyanya ‘Tradisi Pesantren’ menyatakan bahwa untuk berstatus sebagai pesantren di Indonesia harus memenuhi lima persyaratan diantaranya adalah: pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan seorang kiyai. Namun banyak juga pesantren yang tidak memenuhi kreteria di atas,

walaupun mungkin merupakan unsur dasar komposisi pesantren, Sebagai contoh

misalnya, pada tahun 1980-an satu pesantren namanya Pabelan Yogyakarta, menjadi terkenal atas kurikulum modernnya yang mengajarkan ketrampilan- ketrampilan teknis yang bisa dimanfaatkan saat kembali ke desa.

Lambat laun seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, pesantren dituntut untuk tetap eksis dalam menjawab tantangan zaman.maka terjadilah perombakan dalam tubuh pesantren di indonesia. Ada yang sebagian banting setir dan mengubah kurikulum pesantrennya dengan kurikulum umum dengan memasukkan kurikulum umum 70% sedangkan kurikulum agama hanya 3%, dan ada pula yang masih konsist dengan tradisionalnya(salafi)

Pesantren tradisional (salafi) “merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat diperhitungkan dalam mempersiapkan ulama pada masa depan, sekaligus

sebagai garda terdepan dalam memfilter dampak negatif kehidupan modern”.

Isltilah pesantren tradisional digunakan untuk menunjuk ciri dasar perkembangan

pesantren yang masih bertahan pada corak generasi pertamaatau generasi salafi, dan untuk membedakan dengan sejumlah pesantren yang telah melakukan penyesuaian

dengan lembaga-lembaga yang mengklaim dirinya sebagai ‘pesantren modern’.

Dari satu sisi, pesantren tradisional lebih terkenal atau cenderung

mempertahankan pergunaan metode pembelajaran tradisional. Dalam metode ini kiyai aktif dan santri pasif. Secara teknis metode seperti ini bersifat individu.

Kiayi sebagai pembaca dan penterjemah, bukanlah sekedar membaca teks,

melainkan juga memberikan pandangan-pandangan pribadi, baik mengenai isi

maupun bahasnya. Kedua metode ini sering dikritisi sebagai terlalu statis dan

tradisional. Atau sebagai metode pembelajaran yang mengharuskan para santri

diam dan pasif dan tidak berani berbeda pendapat. Satu kritisi dewasa ini adalah

bahwa metode pembelajaran tradisional ini menyababyan para santri “terbiasa

berpikir dan melihat sesuatu secara hitam-putih atau benar-salah tanpa ada

peluang alternatif”.

Beda halnya dengan pesantren yang berbasis modern, model pesantren semacam ini lebih mentitik beratkan kegiatan- kegiatan ekstra kurikuler dari pada kegiatan-kegiatan intra kurikuler. Contohnya, pelatihan pramuka, pelatihan pengembangan bahasa dan lain sebagainya. Dalam pesantren ini peran seorang kyai tidak terlalu masuk kedalam kegiatan-kegiatan santrinya akan tetapi ada tangan kanan kyai yang selalu memantau kegiatan santri, biasanya dalam pesantren ini struktur kepengurusannya lebih rapi dibandingkan dengan pesantren tradisional.

Sistem pembelajarannya pun tergolong berbeda, kalau dalam pesantren tradisional sang kyai yang aktiv, maka kalau dalam pesantren modern sang santri yang dituntut lebih aktiv dari kyainya.

Pesantren di era globalisasi

Eksistensi pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini tetap signifikan. Pesantren yang secara historis mampu memerankan dirinya sebagai benteng pertahanan dari penjajahan, kini seharusnya dapat memerankan diri sebagai benteng pertahanan dari imperialisme budaya yang begitu kuat menghegemoni kehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan. Pesantren tetap menjadi pelabuhan bagi generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang menjebaknya dalam kehampaan spiritual. Keberadaan pesantren sampai saat ini membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman. Namun akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pesantren untuk tanggap secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa depan pesantren ditentukan oleh sejauhmana pesantren menformulasikan dirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya. Dan kami yakin pesantren akan menjadi satu-satunya institusi ke-islaman yang akan tetap eksis sampai akhir zaman.karena bangsa Indonesia ada karenanya dan tanpanya Indonesia seakan tak bertaring. Karena saya melihat pesantren adalah penyelamat pendidikan di Indonesia.Bravo pesantren…!

 

2 Responses to Pesantren dalam menghadapi era globalisasi

  1. The bottom line is to make an informed choice…

    If you wish to go the lower value route while touring, it’s positively a great plan to generate a travel budget….

  2. sudahkah pesantren ikut berperan dalam isu-isu global seperti:, radikalisme, dekadensi moral, kemiskinan, HAM, modernisasi,??, kira-kira bentuknya apa kontribusi pesantren dlm isu diatas??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: